Shadow

Semarak HUT RI ke-81 di CFD Boulevard, DPP ICATT Kampanyekan Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan

Makassar, haramaindonesia.com— Semarak peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung meriah di kawasan Car Free Day (CFD) Jalan Boulevard Makassar, Minggu (9/8/2026). Ribuan warga memadati kawasan tersebut dan turut ambil bagian dalam Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan yang digelar Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) bersama sejumlah mitra.

Kegiatan yang mengusung semangat kemerdekaan dan kepedulian terhadap masa depan generasi bangsa tersebut tidak sekadar menghadirkan aktivitas olahraga, tetapi juga mengajak masyarakat membangun kesadaran bersama tentang pentingnya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, ramah anak, humanis, dan bebas dari segala bentuk kekerasan.

Kampanye ini merupakan kolaborasi DPP ICATT, Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia Cerdas (YPMIC), PMI Kota Makassar, Permabudhi Sulawesi Selatan, Pemuda Lintas Agama Forum Kerukunan Umat Beragama (Pelita FKUB) Sulawesi Selatan, dan Kelompok Kerja Pengawas Pendidikan Agama Provinsi Sulawesi Selatan.

Sejak pagi, antusiasme masyarakat terlihat di sepanjang kawasan CFD Boulevard. Warga yang datang untuk berolahraga maupun menikmati suasana akhir pekan turut bergabung dalam berbagai kegiatan, mulai dari senam bersama, pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah hingga talk show pendidikan.

Kemerdekaan Harus Membebaskan Anak dari Kekerasan

Ketua Umum DPP ICATT, Mallingkai Ilyas, Lc, mengatakan momentum HUT RI ke-81 harus dimaknai lebih luas, tidak hanya sebagai perayaan kemerdekaan bangsa, tetapi juga sebagai momentum untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan ruang pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan.

Menurutnya, pendidikan merupakan salah satu fondasi utama dalam mempersiapkan generasi penerus bangsa. Karena itu, lingkungan pendidikan harus mampu menjadi ruang yang memberikan rasa aman, penghormatan, kasih sayang, serta kesempatan bagi anak untuk berkembang.

“Kemerdekaan yang kita rayakan hari ini harus kita maknai sebagai kemerdekaan untuk belajar, kemerdekaan untuk tumbuh, dan kemerdekaan untuk mengembangkan potensi tanpa rasa takut. Tidak boleh ada anak yang datang ke sekolah, madrasah atau pesantren dengan membawa rasa takut karena mengalami kekerasan,” ujar Mallingkai.

Ia menegaskan, penghentian kekerasan di dunia pendidikan bukan hanya menjadi tanggung jawab guru atau lembaga pendidikan.

Menurutnya, keluarga, pemerintah, masyarakat, organisasi keagamaan, akademisi, pengelola sekolah dan pesantren hingga para peserta didik sendiri harus menjadi bagian dari gerakan tersebut.

“Stop kekerasan tidak boleh berhenti sebagai slogan. Ini harus menjadi gerakan bersama. Kita ingin membangun budaya pendidikan yang mendidik dengan kasih sayang, memberikan keteladanan, menghormati martabat anak, dan menyelesaikan persoalan dengan pendekatan yang humanis,” tegasnya.

Mallingkai juga menilai ruang publik seperti CFD dapat menjadi media efektif untuk menyampaikan pesan-pesan sosial kepada masyarakat.

“Kami ingin membawa isu ini keluar dari ruang seminar dan forum terbatas. Hari ini kita hadir di tengah masyarakat, karena pendidikan adalah urusan kita semua. Ketika kita berbicara tentang masa depan anak, maka seluruh elemen masyarakat harus mengambil bagian,” katanya.

Senam Bersama Warnai Semarak Kemerdekaan

Rangkaian kegiatan diawali dengan senam bersama yang dipandu instruktur profesional. Ratusan warga yang berada di kawasan CFD turut bergabung mengikuti gerakan senam.

Suasana semakin semarak dengan hadirnya peserta dari berbagai kalangan. Aktivitas olahraga tersebut sekaligus menjadi media kampanye yang menggabungkan semangat hidup sehat dengan pesan perlindungan anak.

Warga Manfaatkan Pemeriksaan Kesehatan Gratis

Selain kampanye pendidikan, masyarakat juga mendapatkan layanan pemeriksaan kesehatan gratis yang disiapkan YPMIC.

Pemeriksaan meliputi tekanan darah, kadar gula darah, kolesterol, dan asam urat. Layanan tersebut mendapat sambutan positif dari warga yang memanfaatkan momentum CFD untuk sekaligus mengetahui kondisi kesehatan mereka.

Founder YPMIC, Prof. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kep., mengatakan kegiatan tersebut dirancang dengan pendekatan pemberdayaan masyarakat yang menyatukan aspek pendidikan, kesehatan, dan kepedulian sosial.

“Kita ingin membangun kesadaran bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab kita bersama. Pendidikan harus menjadi ruang yang aman bagi anak untuk belajar, bertumbuh, mengembangkan potensi, dan mewujudkan cita-citanya. Karena itu, kolaborasi seperti ini harus terus diperkuat agar gerakan untuk menghentikan kekerasan dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan,” ujar Prof. Nur Hidayah.

Donor Darah Jadi Aksi Nyata Kepedulian

Semangat kemerdekaan juga diwujudkan melalui aksi donor darah yang melibatkan masyarakat.

Kegiatan yang bekerja sama dengan PMI Kota Makassar tersebut memberikan kesempatan kepada warga untuk berkontribusi membantu sesama melalui donor darah.

Antusiasme masyarakat menunjukkan bahwa kampanye sosial tidak hanya dapat dilakukan melalui penyampaian pesan, tetapi juga melalui tindakan nyata yang memberikan manfaat langsung.

Talk Show Hadirkan Pemerintah, Akademisi dan Praktisi Pesantren

Pesan kampanye kemudian diperdalam melalui talk show pendidikan yang menghadirkan narasumber dari unsur pemerintah, akademisi, dan praktisi pesantren.

Talk show menghadirkan Dr. H. Muhammad, S.Ag., M.Ag., Kepala Kantor Kementerian Agama Kota Makassar; Prof. Nur Hidayah, S.Kep., Ns., M.Kep., Founder YPMIC; dan Prof. Dr. H. Muhammad Amri, Lc., M.Ag., Wakil Rektor IV UIN Alauddin Makassar, Direktur Pesantren IMMIM Putra dan Dewan Pakar ICATT.

Diskusi dipandu Dr. Arbianingsih, Advisor YPMIC.

Para narasumber membahas berbagai persoalan kekerasan di dunia pendidikan sekaligus pentingnya membangun ekosistem pendidikan yang mampu memberikan rasa aman bagi anak.

Kekerasan di lingkungan pendidikan dinilai tidak hanya berbentuk kekerasan fisik. Kekerasan verbal, perundungan, tekanan psikologis, diskriminasi, maupun tindakan yang merendahkan martabat anak juga harus menjadi perhatian bersama.

Karena itu, upaya menghentikan kekerasan membutuhkan keterlibatan semua pihak, mulai dari keluarga, sekolah, madrasah, pesantren, pemerintah, organisasi keagamaan, akademisi hingga masyarakat.

DPP ICATT Dorong Gerakan Bersama

Mallingkai mengatakan DPP ICATT berkomitmen untuk terus mendorong gerakan pendidikan yang berorientasi pada kemanusiaan.

Menurutnya, nilai-nilai keislaman yang menjunjung tinggi kasih sayang, penghormatan terhadap manusia, dan perlindungan terhadap kelompok rentan harus menjadi bagian penting dalam membangun ekosistem pendidikan.

“Pendidikan harus melahirkan manusia yang berilmu sekaligus berakhlak. Karena itu, cara kita mendidik juga harus mencerminkan nilai-nilai kemanusiaan. Kekerasan tidak boleh menjadi metode pendidikan, sebab pendidikan pada hakikatnya adalah proses memanusiakan manusia,” jelas Mallingkai.

Ia berharap kampanye tersebut tidak berhenti pada kegiatan di CFD Boulevard, tetapi berkembang menjadi kesadaran bersama di sekolah, madrasah, pesantren, keluarga, dan lingkungan masyarakat.

“Kita ingin dari Makassar lahir pesan yang kuat bahwa Indonesia yang merdeka adalah Indonesia yang anak-anaknya aman di ruang pendidikan. Mari kita jadikan semangat HUT RI ke-81 sebagai energi untuk membangun pendidikan tanpa kekerasan,” pungkasnya.

Kampanye Publik Stop Kekerasan di Dunia Pendidikan akhirnya menjadi bagian dari semarak HUT RI ke-81 yang tidak hanya menghadirkan kemeriahan, tetapi juga pesan sosial yang kuat.

Ribuan warga yang hadir menjadi bagian dari gerakan untuk membangun kesadaran bahwa menciptakan pendidikan yang aman merupakan tanggung jawab bersama.

Melalui kolaborasi tersebut, DPP ICATT bersama YPMIC dan seluruh mitra mengajak masyarakat menjadikan semangat kemerdekaan sebagai energi untuk menciptakan pendidikan Indonesia yang aman, ramah anak, inklusif, humanis, dan bebas dari kekerasan.(*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *