banner 728x250
NEWS  

Ketua ICATT: Beda Mazhab Itu Kekayaan, Bukan Alasan Bertengkar

banner 120x600

Makassar, haramaindonesia.com — Menempuh pendidikan di Al-Azhar bukan sekadar soal menguasai kitab kuning. Ada tantangan lain yang menanti: berhadapan dengan tradisi keilmuan yang berbeda, mazhab yang beragam, dan lingkungan sosial yang jauh dari kampung halaman.

Menghadapi itu semua, Ketua Umum DPP Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (ICATT), H. Mallingkai Ilyas, punya pesan sederhana tapi tajam. Ia berbicara di hadapan 105 calon mahasiswa Al-Azhar dalam acara Penguatan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan sekaligus pelepasan keberangkatan mereka, Kamis (15/10/2026).

banner 325x300

“Perbedaan pendapat itu kekayaan khazanah keilmuan. Yang harus dicegah adalah perpecahan dan permusuhan,” katanya.

Mallingkai tidak menampik bahwa di Kairo nanti para mahasiswa akan bertemu dengan berbagai cara berpikir yang mungkin belum pernah mereka jumpai sebelumnya. Baginya, itu justru kesempatan emas untuk memperluas cakrawala, bukan bahan pertengkaran.

Ia juga menyinggung soal pentingnya kehati-hatian dalam menerima informasi. “Belajarlah dari guru yang jelas sanad keilmuannya. Lakukan tabayyun sebelum menerima atau menyebarkan informasi,” pesannya.

Kegiatan yang digelar DPP ICATT ini memang dirancang sebagai bekal awal sebelum para mahasiswa berangkat ke Mesir. Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, yang turut hadir, menitipkan pesan senada namun dengan penekanan berbeda.

“Ananda berangkat membawa tiga amanah: sebagai duta agama, duta bangsa, dan duta Sulawesi Selatan. Tampilkan Islam yang berilmu, ramah, dan berakhlak, serta jaga nama baik Indonesia di mana pun berada,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua Yayasan ICATT yang juga Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar, Prof. H. Andi Aderus, menyoroti sisi praktis kehidupan di perantauan. Menurutnya, kemampuan beradaptasi dengan kebiasaan setempat dan membangun relasi lintas budaya sama pentingnya dengan bekal keilmuan.

“Mahasiswa perlu mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang lebih beragam. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya setempat, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain menjadi bekal penting agar dapat menjalani studi dengan lancar tanpa kehilangan jati diri,” tuturnya.

Dengan pembekalan ini, para calon mahasiswa diharapkan tidak hanya sukses secara akademik, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang terbuka, kritis, dan tetap berpijak pada nilai keagamaan serta kebangsaan. Pengalaman di Al-Azhar diharapkan menjadi modal berharga untuk berkontribusi bagi ilmu pengetahuan dan kehidupan keagamaan di Indonesia setelah mereka kembali.(*)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *