banner 728x250
NEWS  

Lepas 105 Mahasiswa Al-Azhar, Kakanwil Kemenag Sulsel Tekankan Amanah Kebangsaan

banner 120x600

Makassar, haramaindonesia.com — Menempuh pendidikan di Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, tidak hanya menuntut penguasaan ilmu agama, tetapi juga kesiapan menghadapi perbedaan budaya, tradisi keilmuan, dan pola interaksi di lingkungan internasional. Mahasiswa perlu membangun kemampuan beradaptasi tanpa kehilangan identitas keagamaan dan kebangsaan.

Sebanyak 105 mahasiswa Universitas Al-Azhar mengikuti kegiatan Penguatan Moderasi Beragama dan Wawasan Kebangsaan yang dirangkaikan dengan Pelepasan Mahasiswa Universitas Al-Azhar Mesir Tahun Ajaran 2026/2027, Kamis (15/10/2026). Kegiatan yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT) ini menjadi bagian dari persiapan calon mahasiswa sebelum melanjutkan pendidikan di Mesir.

banner 325x300

Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, menekankan pentingnya menjaga nama baik agama, bangsa, dan daerah selama menempuh pendidikan di luar negeri. Ia juga mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki tanggung jawab untuk menunjukkan Islam yang moderat, ramah, dan menjunjung tinggi akhlak di tengah keberagaman masyarakat internasional.

“Ananda berangkat membawa tiga amanah: sebagai duta agama, duta bangsa, dan duta Sulawesi Selatan. Tampilkan Islam yang berilmu, ramah, dan berakhlak, serta jaga nama baik Indonesia di mana pun berada.”

Pesan tersebut sejalan dengan upaya Kementerian Agama dalam memperkuat moderasi beragama sebagai bekal membangun kehidupan yang rukun di tengah perbedaan. Dalam konteks pendidikan luar negeri, penguatan ini penting agar mahasiswa mampu berdialog secara terbuka, menghargai perbedaan, serta tetap berpegang pada nilai agama dan kebangsaan.

Ketua Umum DPP ICATT, H. Mallingkai Ilyas, menyoroti pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pemikiran keagamaan. Keberagaman mazhab dan tradisi intelektual yang dijumpai selama studi perlu menjadi kesempatan memperluas wawasan, bukan pemicu perselisihan. Karena itu, mahasiswa perlu memperkuat landasan keilmuan dan bersikap kritis dalam menerima informasi.

“Perbedaan pendapat adalah kekayaan khazanah keilmuan. Yang harus dicegah adalah perpecahan dan permusuhan. Karena itu, belajarlah dari guru yang jelas sanad keilmuannya dan lakukan tabayyun sebelum menerima atau menyebarkan informasi.”

Sementara itu, Ketua Yayasan ICATT sekaligus Wakil Rektor II UIN Alauddin Makassar, H. Andi Aderus, menekankan kesiapan menghadapi perubahan lingkungan sosial dan akademik. Memasuki kehidupan di Mesir menuntut mahasiswa memahami kebiasaan setempat, membangun relasi lintas budaya, dan menyesuaikan diri dengan lingkungan yang lebih beragam tanpa kehilangan jati diri.

“Mahasiswa perlu mempersiapkan diri menghadapi lingkungan yang lebih beragam. Kemampuan beradaptasi, memahami budaya setempat, dan menjalin hubungan baik dengan orang lain menjadi bekal penting agar dapat menjalani studi dengan lancar tanpa kehilangan jati diri.”

Melalui pembekalan ini, calon mahasiswa diharapkan mampu menjalani pendidikan dengan baik sekaligus mengembangkan wawasan keagamaan yang luas, sikap terbuka, dan tanggung jawab kebangsaan. Pengalaman belajar di Al-Azhar diharapkan menjadi bekal untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan dan kehidupan keagamaan di Indonesia setelah menyelesaikan studi.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *