banner 728x250
NEWS  

AGH Baharuddin HS, Ulama Sulsel yang Dipercaya Masuk AHWA Penentu Rais Aam dan Ketum PBNU

banner 120x600

Jombang, haramaindonesia.com — Nama ulama asal Sulawesi Selatan, AGH Dr. KH Baharuddin HS, MA, masuk dalam jajaran sembilan ulama yang terpilih sebagai anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) pada Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, Jawa Timur, Ahad (30/8/2026).

Kepercayaan tersebut menempatkan Baharuddin pada posisi strategis dalam perjalanan organisasi NU. Bersama delapan ulama lainnya, ia akan bermusyawarah menentukan Rais Aam dan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) untuk masa khidmah 2026-2031.

banner 325x300

Baharuddin memperoleh 392 suara atau 8,34 persen, menempatkannya di posisi ketiga dalam perolehan dukungan AHWA. Perolehan tersebut berada di bawah KH Nurul Huda Djazuli dari Ploso dengan 485 suara dan TGH KH Nuruzzahir Yahya dari Waled NU dengan 477 suara.


Terpilihnya Baharuddin menjadi bagian dari AHWA sekaligus menjadi representasi penting ulama Sulawesi Selatan dalam proses menentukan arah kepemimpinan NU lima tahun mendatang.

Dari Cakkeware, Bone, Menapaki Jalan Keilmuan

AGH Baharuddin HS dikenal sebagai salah satu ulama senior Sulawesi Selatan. Perjalanan keilmuannya dimulai dari lingkungan keluarga. Ia memperoleh pendidikan agama sejak dini melalui pengajian langsung dari ayahnya, AGH Abduh Shafa, ulama yang dikenal istiqamah dan disegani masyarakat di Cakkeware, Kabupaten Bone.

Dalam perjalanan pendidikannya, Baharuddin juga belajar bersama sejumlah ulama dan tokoh intelektual, antara lain AGH Ilyas Salewe, AGH Abunawas Bintang, serta dua saudaranya, AGH Muh. Harisah AS dan Prof. Dr. KH Najamuddin HS, MA yang merupakan Guru Besar Universitas Hasanuddin.

Pendidikan formal dan keagamaannya terus berlanjut hingga jenjang perguruan tinggi. Berdasarkan profil yang diterbitkan MUI Kota Makassar, Baharuddin meraih gelar sarjana muda pada 1975, sarjana pada 1986, kemudian menyelesaikan pendidikan pascasarjana di IAIN Alauddin pada 1996.

Ia melanjutkan pendidikan di Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan meraih gelar doktor dalam bidang tafsir pada 2002.
Latar belakang keilmuan tersebut kemudian membentuk kiprahnya sebagai ulama, pendidik sekaligus intelektual Islam.

Ulama, Pengajar Kitab Kuning, hingga Ahli Kaligrafi

Di luar aktivitas organisasi, Baharuddin dikenal aktif dalam dunia pendidikan dan dakwah. Ia mengajar kitab kuning di berbagai tempat dan secara rutin membina pengajian takhassus di kediamannya setiap Jumat pagi.

Ia juga memiliki perhatian khusus terhadap seni dan khazanah Islam. Baharuddin dikenal sebagai ahli kaligrafi Arab dan telah menghasilkan sejumlah karya kaligrafi serta tulisan yang berkaitan dengan bidang tersebut.

Di Pesantren An-Nahdlah, ia turut membina pengajian kitab Khasinatul Asrar dan al-Hikam. Ia juga dipercaya sebagai Syaikhul Ma’had An-Nahdlah, menunjukkan kiprahnya yang tidak hanya bergerak di ranah organisasi, tetapi juga dalam penguatan tradisi keilmuan pesantren.

Baharuddin juga pernah menjabat sebagai Direktur IMMIM Tamalanrea periode 2003-2007. Di tingkat organisasi keulamaan, kiprahnya semakin luas hingga dipercaya menduduki berbagai posisi strategis.

Memimpin MUI Makassar dan PWNU Sulsel
Di Kota Makassar, Baharuddin telah lama dikenal sebagai salah satu tokoh ulama yang aktif dalam pembinaan kehidupan keagamaan masyarakat.

Ia menjabat sebagai Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Makassar sejak 2015. Sebelumnya, ia merupakan wakil ketua umum mendampingi AGH Mustamin Arsyad. Setelah Mustamin Arsyad wafat pada 2015, Baharuddin dipercaya melanjutkan kepemimpinan MUI Kota Makassar melalui mekanisme pergantian antarwaktu.

Di lingkungan NU, Baharuddin juga memiliki rekam jejak yang panjang. Ia sebelumnya menjabat sebagai Rais Syuriyah PCNU Makassar. Pada periode 2024-2029, ia dipercaya menjadi Rais Syuriyah PWNU Sulawesi Selatan. Ia juga tercatat sebagai Mustasyar PBNU masa khidmah 2021-2026.

Kepercayaan tersebut memperlihatkan perjalanan Baharuddin dari lingkungan pesantren dan masyarakat lokal hingga memperoleh posisi dalam struktur keulamaan NU di tingkat nasional.

Dipercaya Menjadi Bagian dari AHWA
Terpilihnya Baharuddin sebagai anggota AHWA Muktamar ke-35 NU bukan sekadar capaian personal. Posisi tersebut membawa tanggung jawab besar karena sembilan ulama AHWA akan menjadi bagian dari proses penentuan kepemimpinan tertinggi NU untuk periode 2026-2031.

Pemilihan sembilan anggota AHWA dilakukan melalui tabulasi dukungan dari PWNU, PCNU, dan PCINU. Setelah memperoleh dukungan tersebut, sembilan ulama terpilih memiliki mandat untuk bermusyawarah menentukan Rais Aam dan Ketua Umum PBNU.


Selain Baharuddin, delapan ulama yang masuk AHWA adalah KH Nurul Huda Djazuli, TGH KH Nuruzzahir Yahya, KH Miftachul Akhyar, KH Afifuddin Muhajir, KH Anwar Iskandar, KH Anwar Manshur, Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, dan Dr. KH Abu Bunyamin.

Dengan latar belakang keilmuan, pengalaman kepemimpinan di MUI dan NU, serta posisinya sebagai Rais Syuriyah PWNU Sulsel, Baharuddin kini menjadi salah satu figur yang ikut menentukan arah perjalanan organisasi Islam terbesar di Indonesia tersebut.

Bagi Sulawesi Selatan, masuknya AGH Baharuddin HS dalam jajaran AHWA menjadi kebanggaan tersendiri. Suara ulama dari kawasan timur Indonesia kini turut hadir dalam forum yang akan menentukan siapa yang memimpin Syuriyah dan Tanfidziyah PBNU untuk lima tahun ke depan.

Peran tersebut sekaligus menjadi babak baru dalam perjalanan panjang Baharuddin sebagai ulama yang tumbuh dari tradisi keilmuan Bone, mengabdi di tengah masyarakat Makassar, membangun NU di Sulawesi Selatan, dan kini dipercaya berada di lingkaran sembilan ulama yang memegang mandat penting dalam Muktamar ke-35 NU.(*)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *