banner 728x250
NEWS  

Kanwil Kemenhaj Sulsel Ikuti Istighosah dan Pembinaan Pegawai Secara Daring, Menhaj Tekankan Integritas sebagai Ruh 

banner 120x600

Makassar, haramaindonesia.com – Kepala Kantor Wilayah Kementerian Haji Provinsi Sulawesi Selatan, H Ikbal Ismail, mengikuti Town Hall Meeting Istighosah Pembinaan Pegawai Kementerian Haji dan Umrah RI secara daring pada Selasa (18/8/2026).

Keikutsertaan Kanwil Kemenhaj Sulsel ditandai dengan hadir bersama di Aula Arafah Asrama Haji Kelas I Makassar. Tampak hadir Kepala Bagian Tata Usaha, H Muflihuddin Syam, Kepala Bidang Bina Pelayanan Haji dan Umrah Kanwill Kemengah Sulsel H As Afiif, Kabid Layanan dan Pengembangan Ekosistem EKonomi, H Slamat Mustafa serta Kepala Asrama Haji Makassar H Zulkifli Hijaz.

banner 325x300

Tampak juga seluruh ASN di lingkungan Kanwil Kemenhaj Provinsi Sulsel. Kegiatan yang diselenggarakan oleh Kementerian Haji dan Umrah Republik Indonesia ini diisi dengan agenda Istighosah Wakil Menteri Haji dan Umrah Dr H Dahnil Anzar Simanjuntak.

Istighosah tersebut juga menjadi sarana doa bersama dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2026, sekaligus mendoakan korban bencana alam yang terjadi di Nusa Tenggara Timur (NTT), Sumatera Utara (Sumut), Sulawesi Setengah (Sulteng).

Wamen Dahnil Anzar Simanjuntak menuturkan dalam Al-Qur’an, perintah terkait ibadah memiliki reduksi kata yang berbeda. Jika untuk salat kita diminta “Aqiimush-shalaah” (tegakkanlah salat), dan untuk zakat “Wa aatuz-zakaah” (tunaikanlah zakat), maka untuk haji dan umrah

“Wa atimmul-hajja wal-’umrata lillaah…”

(Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah).

Perintahnya adalah menyempurnakan. Namun, dalam proses usaha kita menuju kesempurnaan tersebut—baik dalam menjalankan ibadah maupun dalam mengelola penyelenggaraannya—pasti selalu ada halangan dan ketidaksempurnaan yang kita temui.

Sama halnya ketika membaca Asmaul Husna atau mengingat hadis Rasulullah SAW: “Ad-Diinu husnul khuluq” (Agama itu adalah akhlak yang baik). Akhlak (al-khuluq) memiliki akar kata yang sama dengan Al-Khaliq (Sang Pencipta yang Maha Sempurna). Artinya, akhlak manusia itu adalah proses menuju kesempurnaan.

“Sebagai penyelenggara di Kementerian Haji, tugas kita adalah berusaha semaksimal mungkin menyempurnakan penyelenggaraan haji. Kita berupaya meminimalisir setiap potensi kesalahan. Namun secara sunatullah, dalam praktiknya pasti akan ada celah ketidaksempurnaan. Karena itu, penyelenggaraan haji selalu menjadi objek kritik,” ungkapnya.

Momentum kemerdekaan ini, lanjut Wamen, kita bagian dari pencatat sejarah baru bangsa. Mari kita bangun karakter dan wajah Kementerian Haji dengan dua pilar utama.

Integritas, menjadikan integritas sebagai wajah utama kementerian. Tinggalkan kebiasaan-kebiasaan lama yang buruk dan buka lembaran baru.

Kedisiplinan, menjaga kedisiplinan dan kerapian. Kita adalah center of services (pusat pelayanan). Penampilan yang rapi, fasilitas yang bersih, dan senyuman yang hangat dari kita adalah kenyamanan utama bagi para jemaah.

Sementara Menteri Haji dan Umrah H Mochammad Irfan Yusuf mengajak seluruh jajaran Kemenhaj mengisi kemerdekaan dengan kerja, pengabdian, dan integritas.

Menhaj mengatakan, perjuangan kemerdekaan tidak lepas dari peran para ulama dan kiai yang sebagian besar juga telah menunaikan ibadah haji. Semangat perjuangan dan pengabdian tersebut harus diteruskan melalui penyelenggaraan haji yang semakin baik dan berintegritas.

“Hari ini kita berusaha menerapkan apa yang telah dilakukan para pendahulu. Mereka mewariskan kemerdekaan kepada kita. Kita juga harus meninggalkan jejak dan mewariskan haji yang berintegritas,” ujar Menhaj.

Mengutip KH M. Hasyim Asy’ari, Irfan mengatakan hidup adalah sebuah cerita. Karena itu, setiap orang harus mengisinya dengan cerita yang baik agar dapat dibaca dan dikenang anak cucu.

“Saat ini kita sedang menulis cerita itu di Kementerian Haji,” katanya.

Menurut Menhaj, kemerdekaan merupakan hasil perjuangan sekaligus rahmat Allah SWT. Syukur atas nikmat kemerdekaan harus diwujudkan dengan menghadirkan manfaat bagi masyarakat. Semangat tersebut sejalan dengan amanat konstitusi agar kekayaan bumi Indonesia dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.

Menhaj mengakui tahun pertama Kemenhaj penuh tantangan. Namun, amanah harus dijalankan dengan kesungguhan, kerja keras, dan kepasrahan kepada Allah.

“Seorang pemimpin tidak selalu memilih tempat yang nyaman. Pengabdian tidak selalu berada dalam situasi yang mudah. Di mana pun kita ditempatkan, kita harus tetap berdakwah dan mengabdi dengan niat yang tulus,” tuturnya.

Menhaj juga menekankan pentingnya membangun organisasi yang sehat dan menjadikan integritas sebagai ruh Kemenhaj.

Menhaj mengingatkan filosofi Jawa, “Ajining diri dumunung ana ing lathi, ajining slira dumunung ana ing busana.” Seragam Kemenhaj, kata dia, membawa nama dan kehormatan institusi sehingga harus dijaga dengan sikap, ucapan, dan perilaku.

“Setelah selesai puja dan puji, mari kita kembali fokus memberikan yang terbaik untuk jemaah. Fokus kita adalah haji 2027,” tegasnya.

Menhaj berharap seluruh pegawai menjadikan setiap pekerjaan hari ini sebagai bagian dari sejarah Kemenhaj dan warisan baik bagi generasi mendatang.

Dalam kegiatan tersebut dilanjutkan dengan sapaan Menhaj kepada perwakilan Kemenhaj di Nusa Tenggara Timur, khususnya Manggarai Barat, sebagai bagian dari penguatan komunikasi dan kebersamaan jajaran Kemenhaj di seluruh Indonesia. (**)

 

 

 

 

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *