banner 728x250
NEWS  

Ribuan Jemaah Tumpah Ruah di Haul ke-20 Puang Ramma, Syarifah Wahidah Assegaf Bacakan Wasiat

banner 120x600

Makassar, haramaindonesia.com— Haul ke-20 KH. Syekh Sayyid Djamaluddin Assegaf Puang Ramma digelar di Jalan Baji Bicara, Makassar, Ahad (6/9/2026). 

Kegiatan tersebut dihadiri sekitar 2.000 jemaah, termasuk sejumlah tokoh Sulawesi Selatan dan tokoh dari luar Sulsel.

banner 325x300

Haul yang berlangsung khidmat itu dirangkaikan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Rangkaian acara diisi dengan pembacaan doa, zikir dipimpin langsung Syekh Sayyid H Abdurrahim Assegaf Puang Makka. Didahului dengan laporan panitia Capt. Suparman, dan sambutan H. Anwar Abu Bakar, S.Ag., M.Pd. sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Jam’iyah Khalwatiyah Syekh Yusuf Al-Makassariy.

Salah satu momen mengisi kegiatan ini adalah pembacaan wasiat KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma yang disampaikan oleh putrinya, Syarifah Wahidah Assegaf. 

Pembacaan wasiat tersebut menjadi bagian dari upaya mengenang dan meneruskan pesan-pesan almarhum kepada keluarga dan jamaah.

Kehadiran ribuan jemaah serta para tokoh dari berbagai daerah menunjukkan besarnya perhatian dan penghormatan terhadap sosok KHS Djamaluddin Assegaf Puang Ramma. Haul ke-20 ini juga menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi sekaligus mengenang keteladanan dan perjuangan almarhum dalam kehidupan keagamaan dan kemasyarakatan.

Puang Ramma meninggalkan wasiat sebagai warisan penuntun hidup

​Beliau sudah memikirkan bahwa sepeninggalnya kelak, murid dan umat akan menghadapi benturan nilai yang dapat menggoyahkan iman dan kekokohan tauhid, bahkan dapat menghempaskan umat dalam derasnya gelombang kehidupan.

​Karena itu, beliau menyampaikan sebuah wasiat:

عَلَيْكُمْ بِصِفَةِ نَوَائِدِي

“Alaikum bi sifatin nawaidi”

Artinya: “Ambillah sifat Nawaidi” — yang selalu melihat ke bawah dan meneduhkan.

​Nasihat ini sudah menjadi jawaban atas dominannya keegoisan diri pada sebagian manusia di zaman ini. Sifat yang lebih mendominankan keakuan diri, juga sifat egoisme yang mengalahkan sifat tawaduk serta rendah hati.

​Nasihat itu juga telah tercermin dalam keteladanan Puang Ramma. Dalam kisah sejarah kehidupan beliau, Puang Ramma dikenal berani dan tegas, tetapi tidak berarti kasar. Beliau juga dikenal lembut, namun juga tidak berarti menandakan lemah. 

Beliau berbaur dengan siapa saja secara fleksibel. Beliau dikenal berdakwah dengan lemah lembut, bahkan mampu berbaur dengan lintas agama.

​Dalam pandangan beliau, tidak boleh ada paksaan bagi orang lain, karena hal tersebut berkaitan dengan hak prerogatif Tuhan untuk memberikan hidayah kepada para hamba-Nya dan siapa pun yang dikehendaki-Nya.

​Ada hal lain yang menarik dari wasiat beliau tentang kehidupan hedonisme, yang menjadikan uang dan harta sebagai buruan manusia dalam hidup. Nasihat beliau cukup singkat, namun penuh makna:

“Teako eroki nalumba cinna nu”

​Wasiat ini singkat, namun tak cukup kata untuk mengartikan secara langsung. Ini bisa berarti: “Janganlah keinginanmu mendahului kemampuan yang ada pada diri.” Tapi bisa juga bermakna suatu keinginan juga harus ditakar dengan kemampuan diri, tidak memaksakan lalu menuruti keinginan apa saja yang muncul dari hati, sehingga keinginan itu menjadi beban berat yang harus dipikul.

​Puang Ramma juga mengingatkan kepada seluruh warga Nahdliyin agar melanjutkan perjuangan para ulama, karena Nahdlatul Ulama dibangun oleh keringat para ulama. Lanjutkan perjuangannya dan jangan kecewakan mereka!

​Hal lain yang beliau wasiatkan kepada anak-anak dan murid-murid yaitu agar rajin menimba ilmu, bahkan berkelana untuk berguru. Penekanan beliau cukup tegas, agar anak-anak dan murid-murid tidak membanding-bandingkan guru tempat mereka menimba ilmu. 

Bahkan murid diwasiatkan agar tidak melampaui batas diri hingga lancang menilai guru-guru mereka, karena itu bisa menghilangkan keberkahan atas ilmu yang pernah mereka dapatkan. 

Pesan beliau agar melaksanakan secara istiqomah ajaran yang diijazahkan oleh guru. Sekalipun sedikit menurut beliau, tetapi istikamah itu akan jauh lebih bermakna — ibarat tetesan air yang terus-menerus menetes hingga mampu melubangi batu yang keras.

​Pesan dan penekanan wasiat beliau: teguhkan dan kokohkan jiwamu di jalan para wali-wali Allah.

​Sekian pembacaan wasiat guru dan orang tua kami, Allahu yarham Syekh Jamaluddin Assegaf Puang Ramma. Semoga kita semua dapat menjalankan wasiat beliau sebagai warisan penuntun hidup bagi kita semua.

Wa ilallahi turja’ul umur, wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *