NEWS  

Kemenag Sulsel Dorong Ekosistem Kerukunan Demi Makassar Toleran

Makassar, haramaindonesia.com— Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sulawesi Selatan mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem kerukunan secara kolektif guna mendongkrak capaian Indeks Kota Toleran (IKT) Makassar. Ajakan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Strategi Peningkatan Indeks Kota Toleran (IKT) dan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, Selasa (1/9/2026).

Ketua Tim Bina Lembaga dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Sulsel, Mallingkai Ilyas, menegaskan bahwa angka IKT bukanlah tujuan akhir, melainkan alat baca untuk mengukur sejauh mana kota ini mampu menghadirkan kehidupan yang setara, inklusif, dan kolaboratif.

“Kita tidak sedang mengejar angka. Kita sedang membangun masa depan kota. Capaian IKT harus menjadi pijakan untuk lompatan berikutnya,” ujarnya.

Menurut Mallingkai, membangun kerukunan dan harmonisasi umat beragama tidak bisa dibebankan pada satu lembaga/institusi. Pemerintah Daerah, FKUB, Kementerian Agama, tokoh agama, penyuluh, kepala KUA, pengurus Kelurahan Sadar Kerukunan, pemuda, akademisi, pelaku usaha, hingga insan media harus bergerak dalam satu ritme.

“Yang kita bangun bukan sekadar program, tetapi ekosistem yang hidup,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mallingkai yang juga menjabat Wakil Sekretaris FKUB Sulsel menyoroti peran strategis media dan jurnalis. Ia menilai pemberitaan yang sehat mampu membentuk persepsi publik tentang keberagaman secara positif.

“Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembangun narasi harmoni. Praktik baik kerukunan perlu mendapat ruang yang lebih luas, tidak hanya saat terjadi konflik,” katanya.

Ia mendorong agar praktik baik toleransi, solidaritas, dan persaudaraan lintas agama mendapatkan porsi yang setara dengan pemberitaan konflik. Sinergi dengan media, menurutnya, juga menjadi benteng efektif untuk menangkal informasi provokatif yang dapat memecah belah masyarakat.

Mallingkai mengajak seluruh pihak melangkah lebih jauh dari sekadar dialog dan deklarasi. Ia ingin harmoni diwujudkan dalam aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi warga.

“Jangan berhenti pada dialog atau seremoni. Kita harus bergerak dari interaksi menuju kolaborasi, dan dari kolaborasi menuju dampak,” ujarnya.

Ia mencontohkan, tokoh lintas agama dan generasi muda dapat bersinergi menangani isu-isu perkotaan seperti lingkungan, kebencanaan, pendidikan, kemanusiaan, hingga pengentasan kemiskinan. Dengan pendekatan ini, kebersamaan tidak lagi menjadi wacana, tetapi terasa dalam keseharian masyarakat.

Sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT), Mallingkai menyoroti pentingnya peran generasi muda. Ia menilai tantangan ke depan tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital yang kian dominan.

“Generasi muda harus menjadi subjek dan penggerak kerukunan, bukan sekadar objek program,” ucapnya.

Ia mendorong terciptanya ruang kolaborasi bagi pemuda lintas agama untuk mengembangkan proyek bersama, termasuk kampanye digital yang mengusung narasi keberagaman dan persaudaraan.

“Ruang digital sangat menentukan cara generasi muda melihat perbedaan. Karena itu, kita harus hadir dengan narasi yang sejuk, cerdas, dan inspiratif,” tambahnya.

Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. Arifuddin Ahmad, mengapresiasi capaian Makassar yang pada IKT 2025 berhasil menempati peringkat ke-9 untuk kategori kota berpenduduk di atas satu juta jiwa. Ia optimistis prestasi itu bisa ditingkatkan.

“Jika tahun lalu tembus peringkat 9, semoga ke depan Makassar bisa masuk enam besar, bahkan tiga besar,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan target itu hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan dan strategi yang lebih terukur. FGD yang dihadiri pengurus FKUB, Kesbangpol, Pengurus Kelurahan Sadar Kerukunan, penyuluh agama, kepala KUA, jurnalis, dan sejumlah undangan lainnya itu diharapkan melahirkan rekomendasi strategis bagi penguatan kerukunan dan peningkatan IKT serta IKUB ke depan.

Di sela diskusi, Mallingkai mengakui tantangan ke depan tidak ringan. Ruang digital, penyebaran hoaks, dan polarisasi sosial menjadi pekerjaan rumah bersama. Namun, ia tetap optimistis. “Makassar punya modal sosial yang kuat.Kami di Kemenag dan FKUB hanya memfasilitasi, tetapi masyarakatlah yang sebenarnya menjalankan kerukunan setiap hari,” ujarnya. ,”Kalau itu terus dijaga, saya yakin indeks akan mengikuti, bukan sebaliknya”

Kemenag Sulsel Dorong Ekosistem Kerukunan Demi Makassar Toleran

MAKASSAR — Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Sulawesi Selatan mengajak seluruh pemangku kepentingan membangun ekosistem kerukunan secara kolektif guna mendongkrak capaian Indeks Kota Toleran (IKT) Makassar. Ajakan ini mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Strategi Peningkatan Indeks Kota Toleran (IKT) dan Indeks Kerukunan Umat Beragama (IKUB) yang digelar Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar, Selasa (1/9/2026).

Ketua Tim Bina Lembaga dan Kerukunan Umat Beragama Kanwil Kemenag Sulsel, Mallingkai Ilyas, menegaskan bahwa angka IKT bukanlah tujuan akhir, melainkan alat baca untuk mengukur sejauh mana kota ini mampu menghadirkan kehidupan yang setara, inklusif, dan kolaboratif.

“Kita tidak sedang mengejar angka. Kita sedang membangun masa depan kota. Capaian IKT harus menjadi pijakan untuk lompatan berikutnya,” ujarnya.

Menurut Mallingkai, membangun kerukunan dan harmonisasi umat beragama tidak bisa dibebankan pada satu lembaga/institusi. Pemerintah Daerah, FKUB, Kementerian Agama, tokoh agama, penyuluh, kepala KUA, pengurus Kelurahan Sadar Kerukunan, pemuda, akademisi, pelaku usaha, hingga insan media harus bergerak dalam satu ritme.

“Yang kita bangun bukan sekadar program, tetapi ekosistem yang hidup,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Mallingkai yang juga menjabat Wakil Sekretaris FKUB Sulsel menyoroti peran strategis media dan jurnalis. Ia menilai pemberitaan yang sehat mampu membentuk persepsi publik tentang keberagaman secara positif.

“Media bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembangun narasi harmoni. Praktik baik kerukunan perlu mendapat ruang yang lebih luas, tidak hanya saat terjadi konflik,” katanya.

Ia mendorong agar praktik baik toleransi, solidaritas, dan persaudaraan lintas agama mendapatkan porsi yang setara dengan pemberitaan konflik. Sinergi dengan media, menurutnya, juga menjadi benteng efektif untuk menangkal informasi provokatif yang dapat memecah belah masyarakat.

Mallingkai mengajak seluruh pihak melangkah lebih jauh dari sekadar dialog dan deklarasi. Ia ingin harmoni diwujudkan dalam aksi nyata yang memberi manfaat langsung bagi warga.

“Jangan berhenti pada dialog atau seremoni. Kita harus bergerak dari interaksi menuju kolaborasi, dan dari kolaborasi menuju dampak,” ujarnya.

Ia mencontohkan, tokoh lintas agama dan generasi muda dapat bersinergi menangani isu-isu perkotaan seperti lingkungan, kebencanaan, pendidikan, kemanusiaan, hingga pengentasan kemiskinan. Dengan pendekatan ini, kebersamaan tidak lagi menjadi wacana, tetapi terasa dalam keseharian masyarakat.

Sebagai Ketua Dewan Pengurus Pusat Ikatan Cendekiawan Alumni Timur Tengah (DPP ICATT), Mallingkai menyoroti pentingnya peran generasi muda. Ia menilai tantangan ke depan tidak hanya terjadi di ruang fisik, tetapi juga di ruang digital yang kian dominan.

“Generasi muda harus menjadi subjek dan penggerak kerukunan, bukan sekadar objek program,” ucapnya.

Ia mendorong terciptanya ruang kolaborasi bagi pemuda lintas agama untuk mengembangkan proyek bersama, termasuk kampanye digital yang mengusung narasi keberagaman dan persaudaraan.

“Ruang digital sangat menentukan cara generasi muda melihat perbedaan. Karena itu, kita harus hadir dengan narasi yang sejuk, cerdas, dan inspiratif,” tambahnya.

Ketua FKUB Kota Makassar, Prof. Arifuddin Ahmad, mengapresiasi capaian Makassar yang pada IKT 2025 berhasil menempati peringkat ke-9 untuk kategori kota berpenduduk di atas satu juta jiwa. Ia optimistis prestasi itu bisa ditingkatkan.

“Jika tahun lalu tembus peringkat 9, semoga ke depan Makassar bisa masuk enam besar, bahkan tiga besar,” ujarnya.

Namun, ia mengingatkan target itu hanya dapat dicapai melalui sinergi seluruh pemangku kepentingan dan strategi yang lebih terukur. FGD yang dihadiri pengurus FKUB, Kesbangpol, Pengurus Kelurahan Sadar Kerukunan, penyuluh agama, kepala KUA, jurnalis, dan sejumlah undangan lainnya itu diharapkan melahirkan rekomendasi strategis bagi penguatan kerukunan dan peningkatan IKT serta IKUB ke depan.

Di sela diskusi, Mallingkai mengakui tantangan ke depan tidak ringan. Ruang digital, penyebaran hoaks, dan polarisasi sosial menjadi pekerjaan rumah bersama. Namun, ia tetap optimistis.

“Makassar punya modal sosial yang kuat. Kami di Kemenag dan FKUB hanya memfasilitasi, tetapi masyarakatlah yang sebenarnya menjalankan kerukunan setiap hari. Kalau itu terus dijaga, saya yakin indeks akan mengikuti, bukan sebaliknya,”tutupnya. (*)

 

Exit mobile version