Setelah tujuh tahun mengabdikan diri di Toraja Utara, Nurfadhilah kini memasuki babak baru dalam perjalanan pengabdiannya. Ia resmi dipercaya sebagai Kepala Kantor Urusan Agama (KUA), membawa pengalaman pelayanan yang telah dibangunnya sejak 2019.
Perjalanan itu dimulai dari KUA Rantebua dan berlanjut di KUA Kecamatan Sanggalangi. Selama bertugas, Nurfadhilah berhadapan langsung dengan masyarakat, memahami beragam kebutuhan pelayanan, sekaligus mengenal lebih dekat dinamika kehidupan masyarakat di wilayah tempatnya mengabdi.
Pengalaman tersebut menjadi bekal penting ketika tanggung jawab yang lebih besar datang.
“Kalau diberi amanah, berarti ada kepercayaan. Kita harus berani menjalankannya. Kepala kantor juga memberikan motivasi dan meyakinkan bahwa saya bisa,” kata Nurfadhilah.
Bagi Nurfadhilah, kepercayaan tidak cukup dibalas dengan rasa bangga. Amanah harus diwujudkan melalui kerja nyata. Karena itu, ia memilih memandang jabatan barunya sebagai ruang untuk terus belajar, bukan sebagai tanda bahwa dirinya telah selesai belajar.
Cara pandang tersebut tidak terlepas dari pengalaman yang ia peroleh selama tujuh tahun berada di Toraja Utara. Bertugas di tengah masyarakat dengan latar belakang keyakinan yang beragam membuat Nurfadhilah melihat secara langsung bagaimana pelayanan dapat berjalan beriringan dengan kehidupan yang harmonis. Perbedaan tidak menjadi batas untuk membangun komunikasi dan hubungan yang baik.
“Walaupun kita berbeda keyakinan, alhamdulillah toleransinya tinggi. Selama tujuh tahun di sana, saya merasakan kerukunan itu. Itu menjadi pengalaman yang sangat berarti bagi saya,” ujarnya.
Pengalaman itu kemudian membentuk pemahamannya bahwa tugas di Kementerian Agama bukan hanya berkaitan dengan administrasi. Lebih dari itu, ada tanggung jawab untuk hadir di tengah masyarakat, memahami perbedaan, dan memberikan pelayanan dengan pendekatan yang manusiawi.
Nilai tersebut pula yang ingin dibawa Nurfadhilah dalam menjalankan amanah barunya. Ia menyadari bahwa memimpin KUA bukan pekerjaan yang dapat dilakukan seorang diri. Baginya, kepemimpinan membutuhkan kemauan untuk mendengar, belajar dari pengalaman orang lain, dan membangun kerja bersama dengan tim.
“Menurut saya, kita tidak harus langsung tahu semuanya. Kita belajar sambil berjalan, belajar dari yang sudah berpengalaman, kemudian memperbaiki apa yang sudah ada dan menambahkan hal-hal yang bisa membuatnya lebih baik,” tuturnya.
Sikap tersebut menjadi bagian penting dari perjalanan Nurfadhilah sebagai perempuan yang kini dipercaya menempati ruang kepemimpinan.
Baginya, kesempatan memimpin bukan tentang membuktikan bahwa perempuan harus bekerja sendiri atau mengetahui segala hal. Justru, kepemimpinan tumbuh dari keberanian mengambil tanggung jawab, kesediaan belajar, serta kemampuan untuk mengajak orang lain bergerak bersama.
Di titik inilah perjalanan Nurfadhilah menjadi lebih dari sekadar cerita tentang pergantian jabatan. Ia menjadi gambaran tentang bagaimana pengalaman pengabdian dapat membuka ruang bagi perempuan untuk mengambil peran yang lebih besar dalam pelayanan publik.
Tujuh tahun di Toraja Utara telah memberinya pengalaman tentang masyarakat, keberagaman, toleransi, dan kerja bersama. Kini, seluruh pengalaman itu menjadi bagian dari bekal untuk menjalankan amanah sebagai Kepala KUA.
Pelantikan tersebut juga membawa perasaan yang beragam. Ada kebahagiaan karena mendapat kepercayaan, sekaligus rasa haru karena harus meninggalkan lingkungan yang telah menjadi bagian dari perjalanan hidup dan pengabdiannya selama bertahun-tahun.
Namun, bagi Nurfadhilah, setiap amanah memiliki waktunya untuk dijalani dan setiap perjalanan pengabdian memiliki waktunya untuk berkembang. Ia melangkah bukan dengan keyakinan bahwa dirinya telah mengetahui seluruh jawaban, melainkan dengan kesiapan untuk terus mencari, belajar, dan memperbaiki.
Dari Toraja Utara, Nurfadhilah membawa pengalaman. Ke ruang kepemimpinan, ia membawa kepercayaan. Dan melalui amanah barunya sebagai Kepala KUA, ia ingin menghadirkan kepemimpinan yang tumbuh bersama tim, dekat dengan masyarakat, serta terus bergerak menuju pelayanan yang lebih baik.(**)
Nurfadhilah, Wajah Baru Kepemimpinan Perempuan di KUA

Makassar, haramaindonesia.com–Tidak semua orang menerima amanah baru ketika merasa telah sepenuhnya siap. Bagi Nurfadhilah Haris, kepercayaan justru menjadi kesempatan untuk terus belajar, bertumbuh, dan mengambil tanggung jawab yang lebih besar.