Dr. H. Usman Sofian, M.Pd.I. dan perjalanan panjang dari ruang mahasiswa menuju pengabdian kepada masyarakat
Ada perjalanan yang dimulai dari tempat sederhana, tetapi kemudian membawa seseorang ke ruang pengabdian yang luas.
Dr. H. Usman Sofian, M.Pd.I. adalah salah satunya.
Lahir di Desa Rappa, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan, pada 4 Februari 1980, Usman tumbuh dalam lingkungan yang membentuk pendidikan dan keagamaannya sejak dini. Ia menempuh pendidikan dasar di SD Inpres 12/79 Rappa, kemudian melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah Bulu-Bulu dan MAN 2 Watampone.
Masa remajanya juga diwarnai pendidikan keagamaan. Ia mendapat bimbingan dari Allahu yarham Anregurutta KH. Junaid Sulaiman, pendiri Pondok Pesantren Biru yang kini dikenal sebagai Pondok Pesantren Modern Al Junaidiyah.
Saat bersekolah di MAN 2 Watampone pada 1995–1998, Usman tinggal di Asrama Masjid Raya. Di sana, pendidikan tidak hanya berlangsung melalui buku dan ruang kelas. Ia juga belajar tentang kedisiplinan, kehidupan bersama, dan nilai-nilai keagamaan yang kelak menjadi bagian dari perjalanan hidupnya.
Dari Bone, langkahnya kemudian mengarah ke Makassar.
Ia memilih Universitas Muslim Indonesia (UMI) untuk melanjutkan pendidikan tinggi.
Di kampus inilah cerita tentang Usman sebagai aktivis mulai tumbuh.
Ia menempuh pendidikan di Jurusan Tarbiyah, Fakultas Agama Islam melalui program mahasiswa desa binaan. Namun, seperti banyak mahasiswa yang menemukan dirinya melalui organisasi, ruang belajar Usman tidak berhenti di bangku kuliah.
Ia aktif dalam organisasi kemahasiswaan dan kemudian dipercaya menjadi Ketua Umum Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM).
Bagi Usman, menjadi mahasiswa bukan hanya tentang mengejar nilai. Kampus menjadi tempat untuk belajar mengambil keputusan, berhadapan dengan banyak karakter, menyampaikan gagasan, dan memahami persoalan yang ada di sekitar.
Menariknya, kesibukan berorganisasi tidak membuat akademiknya tertinggal.
Ia justru menyelesaikan pendidikan dengan IPK 3,98. Prestasi tersebut mengantarkannya memperoleh beasiswa untuk melanjutkan pendidikan magister di Pascasarjana UMI. Perjalanan akademiknya kemudian terus berlanjut hingga jenjang doktoral di kampus yang sama.
UMI akhirnya menjadi lebih dari sekadar tempat Usman mendapatkan gelar.
Di sanalah ilmu dan pengalaman organisasi mulai bertemu.
Di sanalah ia belajar bahwa kepemimpinan bukan hanya soal berada di depan, tetapi juga tentang mendengar, bekerja bersama, dan bertanggung jawab atas keputusan.
Dan pelajaran itu ternyata tidak berhenti ketika ia meninggalkan kampus.
Ketika organisasi menjadi jalan pengabdian
Selepas menjadi mahasiswa, dunia organisasi justru menjadi bagian yang semakin kuat dalam kehidupannya.
Usman aktif dalam berbagai organisasi kepemudaan, kemasyarakatan, dan keagamaan. Ia pernah terlibat dalam PMII, BKPRMI, KNPI, dan Masika ICMI Sulawesi Selatan. Ia juga aktif di Nahdlatul Ulama, Dewan Masjid Indonesia, serta Forum Kerukunan Umat Beragama Kota Makassar.
Ruang-ruang tersebut memberinya pengalaman yang berbeda.
Di satu tempat ia belajar mengelola organisasi. Di tempat lain ia belajar memahami masyarakat. Ada pula ruang yang mengajarkannya bekerja bersama orang-orang dengan latar belakang berbeda.
Dari berbagai pengalaman itu, perlahan terbentuk satu kemampuan yang penting dalam perjalanan kepemimpinannya: membangun kepercayaan dan mengubah jaringan menjadi kerja nyata.
Perjalanan panjang itu salah satunya dijalani bersama Nahdlatul Ulama.
Usman memulai dari tingkat kecamatan sebagai Sekretaris Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang NU Kecamatan Mamajang. Setelah itu ia dipercaya menjadi Ketua Tanfidziyah MWC NU Kecamatan Mamajang.
Pengabdiannya kemudian berlanjut di tingkat kota.
Pada periode 2019–2024, ia menjadi Sekretaris Tanfidziyah PCNU Kota Makassar, mendampingi KH. Kaswad Sartono.
Pada periode tersebut, pekerjaan organisasi tidak hanya berkutat pada kegiatan rutin. Konsolidasi dilakukan hingga tingkat ranting. Lembaga dan badan otonom diperkuat. Aset organisasi mulai dibangun dan dilegalisasi.
Salah satu pekerjaan kelembagaan yang menonjol adalah pembangunan Kantor PCNU Kota Makassar di Jalan Darul Ma’arif Nomor 26 Makassar. Menjelang berakhirnya masa khidmat kepengurusan, progres pembangunannya disebut telah mencapai sekitar 70 persen.
Dari pengalaman itu terlihat bahwa organisasi bukan sekadar tentang struktur dan jabatan.
Ada perencanaan yang harus dibuat. Ada orang-orang yang harus disatukan. Ada sumber daya yang harus dikelola. Dan pada akhirnya, harus ada sesuatu yang benar-benar bisa dirasakan manfaatnya.
Belajar merawat perbedaan
Perjalanan Usman kemudian membawanya ke ruang pengabdian yang memiliki tantangan berbeda: Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Kota Makassar.
Di sana, ia dipercaya menjadi Sekretaris FKUB, mendampingi Ketua FKUB Prof. H. Arifuddin Ahmad.
Jika di organisasi keagamaan ia banyak bekerja bersama orang-orang yang memiliki latar belakang relatif serupa, di FKUB ia berhadapan dengan keberagaman yang lebih luas.
Ada perbedaan keyakinan. Ada perbedaan tradisi. Ada cara pandang yang tidak selalu sama.
Di ruang seperti itu, kemampuan untuk berbicara menjadi penting. Tetapi kemampuan untuk mendengar jauh lebih penting.
Kepercayaan harus dibangun. Perbedaan harus dikelola dengan rasa hormat. Dan kepentingan bersama sebagai warga kota harus ditempatkan lebih tinggi daripada sekadar kepentingan kelompok.
Kerja tersebut kemudian ikut mengantarkan FKUB Kota Makassar memperoleh Harmony Award 2025 dari Kementerian Agama RI sebagai FKUB Kota dengan Kinerja Terbaik II Nasional.
Penghargaan itu bukan semata-mata tentang sebuah piala atau predikat. Ia menjadi penanda bahwa kerukunan tidak lahir secara tiba-tiba.
Kerukunan dibangun dari komunikasi yang terus dijaga, perjumpaan yang terus dilakukan, dan kesediaan untuk memahami perbedaan.
Dari pengalaman menuju amanah zakat
Pada 6 Juli 2026, perjalanan Usman memasuki babak baru.
Ia dilantik oleh Wali Kota Makassar H. Munafri Arifuddin sebagai Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kota Makassar periode 2026–2031.
Kali ini, amanah yang diembannya bersentuhan langsung dengan pengelolaan dana masyarakat untuk kepentingan masyarakat.
Di BAZNAS, kepercayaan menjadi fondasi utama.
Dana zakat yang dihimpun berasal dari masyarakat. Karena itu, pengelolaannya tidak cukup hanya dengan niat baik. Dibutuhkan integritas, tata kelola, ketepatan sasaran, transparansi, serta kemampuan memastikan zakat benar-benar sampai dan memberi manfaat kepada mustahik.
Pengalaman Usman selama bertahun-tahun di berbagai organisasi menjadi bekal untuk menghadapi tanggung jawab tersebut.
Ia telah belajar membangun jaringan. Ia pernah mengelola organisasi. Ia terbiasa berkomunikasi dengan kelompok yang berbeda. Ia juga memiliki pengalaman dalam pembangunan kelembagaan dan dunia profesional.
Sebelum memilih mengarahkan pengabdiannya secara lebih penuh kepada masyarakat melalui BAZNAS Kota Makassar, Usman pernah menjalani karier profesional selama sekitar satu dekade sebagai Head Officer Area Sulselbar PT Amco Group Jakarta, perusahaan yang bergerak di bidang manufaktur.
Semua pengalaman itu kini bertemu dalam satu amanah baru.
Perjalanan yang tidak dibangun dalam sehari
Menjadi Ketua BAZNAS Kota Makassar bukanlah cerita yang muncul dalam satu malam.
Di belakang jabatan tersebut ada perjalanan panjang seorang anak dari Desa Rappa di Bone.
Ada seorang pelajar yang tumbuh dalam lingkungan pendidikan dan keagamaan.
Ada mahasiswa UMI yang aktif berorganisasi.
Ada Ketua BEM yang belajar memimpin.
Ada aktivis kepemudaan yang berpindah dari satu ruang pengabdian ke ruang lainnya.
Ada pengurus NU yang belajar membangun kelembagaan.
Ada penggerak kerukunan yang belajar bekerja bersama mereka yang berbeda.
Ada profesional yang merasakan dinamika dunia usaha.
Dan akhirnya, ada seorang pengabdi yang dipercaya mengelola amanah zakat untuk masyarakat Kota Makassar.
Jika perjalanan itu dirangkum, perubahan perannya terlihat jelas.
Dari mahasiswa menjadi aktivis.
Dari aktivis menjadi organisator.
Dari organisator menjadi penggerak masyarakat.
Dari penggerak masyarakat menjadi bagian dari kepemimpinan keagamaan dan kerukunan.
Kemudian, dari pengalaman panjang itu, ia dipercaya memimpin BAZNAS Kota Makassar.
Ruangnya berubah. Tetapi satu hal tetap sama: organisasi menjadi jalan untuk memberi manfaat.
UMI dan fondasi yang dibawa pulang
Dalam perjalanan panjang tersebut, Universitas Muslim Indonesia memiliki tempat tersendiri.
Di UMI, Usman memperoleh pendidikan akademik. Di UMI pula ia menemukan ruang organisasi dan belajar memimpin mahasiswa.
Di kampus yang sama, prestasi akademik dan aktivitas organisasi berjalan beriringan. Bahkan perjalanan pendidikannya terus berlanjut hingga magister dan doktoral.
Karena itu, UMI bagi Usman bukan sekadar tempat memperoleh gelar.
Ia adalah bagian dari proses pembentukan diri.
Ilmu yang diperoleh di kelas bertemu dengan pengalaman yang didapat di organisasi. Pengalaman itu kemudian dibawa keluar kampus, bertemu dengan masyarakat, organisasi, dunia profesional, dan ruang kerukunan.
Kini, semuanya menemukan ruang pengabdian baru melalui BAZNAS Kota Makassar.
Pada akhirnya, perjalanan seorang alumni tidak selalu diukur dari seberapa tinggi jabatan yang diraih.
Ukuran lainnya adalah seberapa jauh ilmu yang pernah diperoleh dapat kembali kepada masyarakat.
Usman Sofian mungkin berangkat dari sebuah desa di Bone. Ia kemudian tumbuh melalui pendidikan, organisasi, dan berbagai ruang pengabdian.
Dari kampus, ia membawa ilmu.
Dari organisasi, ia membawa pengalaman.
Dari kerukunan, ia belajar menjaga perbedaan.
Dari dunia profesional, ia belajar mengelola tanggung jawab.
Dan dari semua perjalanan itu, kini ia membawa satu amanah baru: mengelola zakat agar semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaatnya.
Sebab alumni pada akhirnya bukan hanya mereka yang pernah belajar di sebuah kampus.
Alumni adalah mereka yang membawa ilmu, pengalaman, dan nilai dari kampus—lalu mengembalikannya kepada masyarakat dalam bentuk manfaat.(**)




















