banner 728x250

Ali Yafid Usung BARISAN SIPAKAINGE, Inovasi Baru Penguatan Ekoteologi di Sulsel

banner 120x600

Makassar, haramaindonesia.com–Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Selatan, H. Ali Yafid, mempersembahkan inovasi penguatan Ekoteologi melalui Gerakan BARISAN SIPAKAINGE pada Seminar Proyek Perubahan Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan XXX Tahun 2026.

Mengusung rancangan proyek perubahan bertajuk “Strategi Implementasi Ekoteologi di Sulawesi Selatan Berbasis Kearifan Lokal melalui Gerakan BARISAN SIPAKAINGE”, Ali Yafid menawarkan model implementasi agar Ekoteologi tidak berhenti pada kegiatan lingkungan yang bersifat insidental, tetapi berkembang menjadi gerakan yang terintegrasi, terukur, dan berkelanjutan.

banner 325x300

Dalam proses penyusunan dan pengembangan proyek perubahan tersebut, Ali Yafid mendapat pendampingan dari Mentor Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, M.A. dan Coach H. Achmad Nidjam, M.M. Adapun pada seminar, rancangan proyek perubahan diuji oleh Prof. Dr. H. Arskal Salim GP, M.A.

BARISAN merangkum tujuh indikator lingkungan, yakni Bersih, Asri, Rindang, Indah, Sehat, Aman, dan Nyaman. Sementara SIPAKAINGE mengangkat nilai kearifan lokal Sulawesi Selatan, yakni semangat saling mengingatkan untuk membangun norma, perilaku, dan budaya ekologis.

Inovasi ini dirancang untuk menjawab implementasi Ekoteologi yang masih cenderung sporadis, belum memiliki standar dan indikator bersama, serta monitoring yang belum sistematis. Pelaksanaannya disusun bertahap, mulai dari penyusunan pedoman dan indikator, penerapan pada lokus pilot, evaluasi dan penyempurnaan model, hingga replikasi pada satuan kerja lainnya.

Ali Yafid berharap pendekatan tersebut dapat mendorong kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari budaya organisasi sekaligus gerakan bersama yang melibatkan ASN, lembaga keagamaan, dunia pendidikan, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan.

“Saya ingin mendorong Ekoteologi bergerak dari gagasan menjadi sistem, dari kegiatan menjadi budaya, dan dari komitmen menjadi dampak yang terukur dan berkelanjutan,” ungkap Ali Yafid.

Ke depan, proyek perubahan ini diarahkan untuk dapat terintegrasi dalam kebijakan, program, dan kinerja organisasi. Dengan demikian, penguatan Ekoteologi diharapkan tidak berhenti pada pelaksanaan PKN Tingkat II, tetapi terus berkembang dan direplikasi sebagai bagian dari upaya membangun budaya peduli lingkungan di lingkungan Kementerian Agama Sulawesi Selatan. (*)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *