Penulis: Dr. Ilham Hamid, S.Ag., M.Pd.I., M.Pd.
Penerbit: CV. Langit Kata Publisher
Cetakan pertama: April 2026
ISBN: 978-634-96969-6-8

Bagaimana iman hadir ketika seseorang berhadapan dengan kesulitan orang lain? Pertanyaan ini membawa pembicaraan tentang keberagamaan menuju kehidupan sehari-hari: cara memperlakukan keluarga, menjaga kepercayaan, mendengarkan keluhan, dan mengulurkan pertolongan. Di ruang-ruang itulah kesalehan memperoleh makna sosialnya.
Buku Rekonstruksi Paradigma Bimbingan Islam Berbasis Nilai Qurani dan Sosial Profetik karya Ilham Hamid mengajak pembaca menelusuri hubungan tersebut. Bimbingan Islam ditempatkan sebagai pendampingan yang menumbuhkan kesadaran spiritual sekaligus tanggung jawab kemanusiaan. Ketenangan diri menjadi bagian dari perjalanan menuju hubungan yang lebih baik dengan sesama.
Pada pengantarnya, penulis menyebut kebutuhan untuk memperkuat arah bimbingan Islam agar menjangkau kesadaran sosial. Kegelisahan yang mendasarinya adalah krisis kesalehan sosial dalam kehidupan modern. Ada kebutuhan untuk menghadirkan pendampingan yang membantu manusia memahami persoalan pribadinya, kemudian menemukan kembali perannya dalam keluarga dan masyarakat.
Gagasan ini memberi arah yang jelas bagi buku. Keberhasilan bimbingan tidak berhenti ketika seseorang merasa lega setelah menyampaikan masalah. Perubahan juga perlu tampak dalam kejujuran, kemampuan mengendalikan diri, kesediaan memikul tanggung jawab, dan kepedulian terhadap kehidupan di sekitarnya.
Bimbingan yang memuliakan manusia
Pada bagian awal, Ilham menjelaskan konseling Islam sebagai proses pendampingan yang membantu seseorang memahami dirinya berdasarkan nilai-nilai keislaman. Manusia dipandang memiliki potensi dasar yang baik. Pengalaman hidup dan pengaruh lingkungan dapat menghambat perkembangan potensi tersebut sehingga diperlukan bantuan untuk mengenali dan menumbuhkannya kembali.
Cara pandang ini membuka ruang bagi pendampingan yang menghargai manusia. Orang yang datang dengan persoalan membawa pengalaman, harapan, dan kemampuan untuk berubah. Pembimbing berkewajiban membantu menemukan kemampuan itu melalui hubungan yang dilandasi kepercayaan.
Semangat tersebut terlihat pada pengantar bab tentang kasus individual. Penulis menekankan perlunya mengajak seseorang merenungkan tindakannya tanpa merasa dihakimi. Penekanan ini penting karena nasihat keagamaan memerlukan kepekaan terhadap keadaan orang yang menerimanya. Pesan yang benar membutuhkan cara penyampaian yang menjaga martabat.
Dalam hubungan pendampingan, mendengarkan menjadi bagian dari tanggung jawab moral. Pembimbing perlu memahami pengalaman seseorang sebelum mengarahkan langkahnya. Dari sudut ini, gagasan buku dapat dibaca sebagai ajakan untuk menghadirkan wajah bimbingan Islam yang dekat, sabar, dan penuh penghormatan.
Keteladanan yang bekerja dalam keseharian
Istilah profetik dalam buku merujuk pada nilai-nilai kenabian. Penulis menempatkannya sebagai dasar perubahan moral dan kehidupan sosial. Kejujuran serta amanah mendapat perhatian dalam pengantar pembahasan integrasi nilai profetik dengan konseling Islam.
Pilihan ini mengingatkan bahwa kewibawaan seorang pembimbing bertumpu pula pada kesesuaian perkataan dan tindakan. Nasihat tentang kejujuran memperoleh kekuatan ketika disampaikan oleh orang yang dapat dipercaya. Ajakan untuk peduli menjadi lebih bermakna ketika pembimbing memperlihatkan kesediaan mendengarkan dan membantu.
Daftar isi buku memetakan sejumlah metode, mulai dari mau’izhah hasanah, kisah Qurani, keteladanan, dan muhasabah hingga penguatan iman, empati sosial, serta komunikasi persuasif. Susunan tersebut memperlihatkan perhatian penulis terhadap beragam jalan untuk menumbuhkan kesadaran.
Pada uraian awal tentang mau’izhah hasanah, kelembutan menjadi unsur penting penyampaian nasihat. Pendampingan diarahkan untuk menyentuh kesadaran dan menggerakkan kehendak seseorang. Di sini, komunikasi keagamaan memperoleh tantangan yang nyata: bagaimana menyampaikan tuntunan dengan jelas sambil tetap memberi ruang bagi orang lain untuk mengungkapkan pergulatannya.
Muhasabah dan keteladanan, sebagaimana tercantum dalam rancangan pembahasan, juga membuka hubungan antara perenungan diri dan tindakan. Kesadaran atas kekeliruan akan lebih bermakna ketika diikuti usaha memperbaiki hubungan, memenuhi amanah, dan menjaga hak sesama.
Dari keluarga menuju masyarakat
Keluarga mendapat tempat dalam pembahasan implementasi konseling profetik. Penulis menggambarkannya sebagai lingkungan pertama tempat seseorang mengenal nilai kehidupan dan etika bermasyarakat. Tanggung jawab di rumah dipahami sebagai amanah yang memiliki dimensi spiritual.
Pandangan ini membuat keluarga relevan sebagai ruang pembentukan kesalehan sosial. Kesediaan mendengarkan pasangan, menghormati anak, dan menjalankan kewajiban sehari-hari merupakan pengalaman konkret tempat nilai agama dipelajari. Keharmonisan membutuhkan kebiasaan yang terus dirawat melalui komunikasi dan tanggung jawab bersama.
Cakupan yang direncanakan buku kemudian meluas ke lembaga pendidikan, masyarakat multikultural, kelompok rentan, dan peran penyuluh agama. Pemetaan ini menunjukkan bahwa pendampingan perlu mempertimbangkan keragaman lingkungan serta kebutuhan orang yang dibimbing.
Bagian mengenai kesalehan sosial menjadi penghubung utama seluruh gagasan tersebut. Penulis mengaitkan kualitas spiritual dengan empati, kesantunan, dan perhatian terhadap kesejahteraan masyarakat. Iman diharapkan membentuk cara seseorang hadir di tengah kehidupan bersama.
Pada pengantar bab evaluasi, arah itu kembali ditegaskan. Keberhasilan pendampingan dihubungkan dengan perubahan perilaku, kemandirian, tanggung jawab, dan interaksi sosial yang sehat. Dengan demikian, pengalaman spiritual memperoleh perhatian bersama akibatnya dalam kehidupan sehari-hari.
Menjembatani gagasan dan praktik
Kekuatan buku ini terletak pada arah pemikirannya yang menghubungkan pengembangan diri dengan kepedulian sosial. Susunan sembilan bab juga memperlihatkan rancangan yang bergerak dari konsep dan landasan nilai menuju metode, implementasi, serta evaluasi. Kerangka tersebut berpotensi membantu pembaca memahami hubungan antara tujuan bimbingan dan pelaksanaannya.
Namun, gagasan rekonstruksi membawa tuntutan akademik yang besar. Pembaca perlu memperoleh penjelasan tegas mengenai paradigma yang hendak diperbarui, keterbatasannya, dan unsur pembaruan yang ditawarkan. Dalam cuplikan yang tersedia, arah etik buku lebih mudah dikenali daripada rincian pembeda modelnya.
Tantangan berikutnya ialah menerjemahkan kesalehan sosial menjadi indikator yang dapat diamati secara hati-hati. Kejujuran, empati, dan tanggung jawab membutuhkan penilaian yang memperhatikan konteks serta perubahan dari waktu ke waktu. Daftar isi telah menyediakan ruang bagi instrumen dan evaluasi, meskipun kedalaman pembahasannya belum dapat diperiksa dari cuplikan ini.
Terlepas dari batas pembacaan tersebut, buku Ilham Hamid menawarkan bahan refleksi bagi mahasiswa, pendidik, penyuluh agama, dan pemerhati bimbingan Islam. Pertanyaan yang dibawanya dekat dengan kebutuhan umat: bagaimana pendampingan keagamaan dapat membantu seseorang menemukan ketenangan sekaligus menumbuhkan kepedulian?
Jawabannya diarahkan pada keberagamaan yang hadir dalam tindakan. Batin yang dibimbing menuju kebaikan diharapkan melahirkan hubungan yang lebih jujur, santun, dan bertanggung jawab. Kesalehan pun menemukan tempatnya dalam kehidupan orang-orang yang merasakan manfaat kehadiran kita.
Profil Ilham Hamid
Lahir di Sinjai pada 3 November 1973. Sosok akademisi, pendidik, penulis, dan aktivis dakwah yang menekuni pengembangan pendidikan Islam, komunikasi dakwah, serta pembinaan masyarakat.
Pendidikan dasar hingga menengah ditempuhnya di Sinjai. Sarjana pada Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Alauddin Makassar. Pendidikan Magister Pendidikan dan Komunikasi Islam di Pascasarjana IAIN Alauddin Makassar. Magister Bimbingan dan Konseling di UNM. Di universitas sama, ia meraih gelar doktor dalam bidang Ilmu Pendidikan.
Perjalanan akademiknya diwarnai pengalaman mengajar di berbagai perguruan tinggi, antara lain UIN Alauddin Makassar, Universitas Muhammadiyah Makassar, STIKES Mega Rezki, LP3I Makassar, STIE Nobel, dan STIEM Bongaya. Ia juga pernah menjabat Wakil Dekan II Fakultas Agama Islam Universitas Indonesia Timur.
Dalam profil buku ini, ia tercatat sebagai dosen tetap Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Alauddin Makassar sekaligus Sekretaris Program Studi Manajemen Haji dan Umrah.
Sebagai penulis, Ilham menaruh perhatian pada hubungan antara pendidikan, dakwah, psikologi Islam, dan pembentukan moral.
Sejumlah bukunya antara lain Cegah Degradasi Moral dengan Bimbingan Kesalehan Sosial, The Power of Sakinah untuk Ketahanan Keluarga, Model BKS untuk Mereduksi Degradasi Moral Siswa, serta Konseling Keluarga Sakinah. Ia juga menulis artikel ilmiah dalam jurnal nasional dan internasional dengan fokus pada pendidikan, bimbingan Islam, serta pembinaan generasi muda.
Kiprahnya turut menjangkau organisasi sosial dan keagamaan. Ia mengemban amanah sebagai Sekretaris MUI Sulawesi Selatan periode 2021–2026.
Sekretaris Umum Persaudaraan Dosen Republik Indonesia (PDRI) Sulawesi Selatan dan Sekretaris Dewan Masjid Indonesia Sulawesi Selatan. Ketua LPHU/KBIHU Subulussalam PWM/Aisyiyah Sulsel.
Selain mengajar dan menulis terlibat dalam berbagai forum nasional dan internasional sebagai narasumber, moderator, pelatih, serta motivator pendidikan dan dakwah.
Pengalaman dakwah dan pembimbingan ibadah umrah membawanya ke Makkah dan Madinah, serta sejumlah negara, seperti Qatar, Uni Emirat Arab, Malaysia, dan Singapura. ***



















