banner 728x250

Sumpah Pemuda Di Era Digital: Internet, Terpecah Dalam Kenyataan?

banner 120x600
Dr. Siti Suwadah Rimang, M.Hum.(Akademisi Universitas Muhammadiyah Makassar)

Setiap tanggal 28 Oktober, bangsa Indonesia memperingati Hari Sumpah Pemuda untuk mengenang tekad generasi muda tahun 1928 dalam menjunjung persatuan tanah air, bangsa, dan bahasa Indonesia. Semangat tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun identitas kebangsaan di tengah keberagaman.

banner 325x300

Namun, di era digital, muncul pertanyaan mendasar: apakah kemudahan berkomunikasi melalui internet membuat kita semakin dekat atau justru semakin jauh dalam kehidupan nyata?
Internet memungkinkan masyarakat berkomunikasi lintas wilayah, menyebarkan informasi, dan menggalang bantuan dalam waktu singkat. Media sosial juga memberikan ruang bagi setiap orang untuk menyampaikan gagasan. Akan tetapi, kemudahan tersebut tidak selalu memperkuat hubungan sosial. Perbedaan pendapat dapat memicu pertengkaran, informasi keliru menumbuhkan kecurigaan, dan komentar yang tidak bijaksana merusak persaudaraan.

Kita semakin terhubung secara teknologi, tetapi belum tentu semakin erat secara sosial. Karena itu, semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui cara berkomunikasi, menghargai perbedaan, dan memperlakukan sesama.Ketika Perbedaan Pendapat Merusak Persaudaraan
Perbedaan pendapat

merupakan bagian wajar dalam kehidupan bermasyarakat. Setiap orang memiliki pengalaman, latar belakang, dan pandangan yang berbeda. Persoalan muncul ketika perbedaan dijadikan alasan untuk merendahkan orang lain.

Contohnya, grup WhatsApp warga yang awalnya digunakan untuk berbagi informasi dan mengoordinasikan kegiatan bersama dapat berubah menjadi ruang pertengkaran akibat perbedaan pandangan. Sindiran dan kata-kata kasar membuat anggota saling tersinggung. Bahkan, konflik tersebut dapat terbawa ke kehidupan nyata sehingga warga enggan menyapa dan bekerja sama.

Situasi serupa dapat terjadi dalam keluarga, kampus, organisasi, dan tempat kerja. Oleh karena itu, kebebasan berpendapat harus disertai tanggung jawab. Kita boleh berbeda tanpa bermusuhan, mengkritik tanpa menghina, dan mempertahankan prinsip tanpa merendahkan orang lain.

Hoaks dan Prasangka sebagai Ancaman Persatuan

Penyebaran informasi yang belum terverifikasi menjadi tantangan lain dalam kehidupan digital. Pesan berantai yang disertai foto atau video sering kali langsung diteruskan tanpa memeriksa sumber, waktu, dan lokasi kejadian.

Akibatnya, masyarakat dapat mengalami keresahan dan mencurigai orang lain berdasarkan informasi yang belum tentu benar. Jika informasi tersebut menyangkut suku, agama, atau kelompok tertentu, dampaknya dapat mengganggu kerukunan.

Masyarakat perlu membiasakan diri memeriksa sumber informasi, membandingkannya dengan sumber lain, dan memastikan konteksnya sebelum membagikannya. Informasi yang sesuai dengan keyakinan pribadi belum tentu benar, sebagaimana informasi yang berbeda dari pandangan kita tidak otomatis salah.
Kita juga harus menghindari prasangka yang menghapus pengalaman baik dalam kehidupan nyata.

Seseorang tidak seharusnya dinilai hanya berdasarkan identitas kelompok atau unggahan yang belum terbukti kebenarannya. Penilaian harus didasarkan pada fakta dan perilaku, dengan tetap mengedepankan keadilan.

Teknologi sebagai Jembatan Kepedulian

Teknologi digital bukan musuh persatuan. Internet dan media sosial dapat menjadi sarana memperkuat solidaritas, menggalang bantuan bencana, mempromosikan usaha kecil, serta menggerakkan kegiatan sosial.

Pemuda dapat memanfaatkan grup percakapan untuk mengoordinasikan kerja bakti, mengajar anak-anak, menyelenggarakan pelatihan keterampilan, dan memperkenalkan budaya lokal kepada masyarakat luas. Melalui teknologi, orang-orang dari berbagai latar belakang dapat bekerja sama demi tujuan bersama.

Dengan demikian, persoalan utama bukan terletak pada teknologi, melainkan pada cara manusia menggunakannya. Teknologi dapat memperluas prasangka, tetapi juga dapat menumbuhkan empati. Teknologi dapat memperbesar konflik, tetapi juga membantu menyelesaikan persoalan apabila digunakan secara bijaksana.

Langkah Nyata Merawat Persatuan

Semangat Sumpah Pemuda perlu diwujudkan melalui tindakan sederhana dan konsisten.

Pertama, memeriksa kebenaran informasi sebelum membagikannya. Kedua, membangun etika komunikasi dengan menyampaikan kritik secara santun. Ketiga, menyelesaikan kesalahpahaman melalui dialog, bukan sindiran atau penghinaan. Keempat, memperkuat interaksi langsung melalui gotong royong, pertemuan warga, dan kegiatan sosial.

Kelima, menjadikan media sosial sebagai ruang berbagi pengetahuan, mempromosikan kegiatan positif, dan menyebarkan informasi yang bermanfaat.

Keenam, mendidik generasi muda agar tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga mampu berpikir kritis, berempati, dan bertanggung jawab.
Langkah-langkah tersebut menunjukkan bahwa persatuan dapat dirawat melalui keputusan sehari-hari: tidak menyebarkan kabar yang meragukan, menghindari pertengkaran yang tidak perlu, dan tetap bersedia bekerja sama meskipun berbeda pandangan.
Persatuan Adalah Tanggung Jawab Bersama
Menjaga persatuan bukan hanya tanggung jawab generasi muda. Keluarga berperan menanamkan sikap menghormati orang lain.

Lembaga pendidikan perlu mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan budaya dialog. Tokoh masyarakat harus menjadi teladan dalam menyelesaikan perbedaan secara damai, sedangkan media massa perlu menyampaikan informasi secara akurat dan berimbang.

Pemerintah juga memiliki tanggung jawab mendukung lingkungan digital yang aman. Selain itu, persatuan perlu disertai upaya mengatasi ketidakadilan, ketimpangan kesempatan, dan rendahnya kepercayaan sosial. Ajakan bersatu akan lebih bermakna ketika setiap orang merasa dihargai, didengar, dan memiliki kesempatan untuk berkontribusi.

Nasionalisme pun tidak cukup diwujudkan melalui upacara bendera atau peringatan hari bersejarah.

Nasionalisme tercermin dalam perilaku menghormati perbedaan, menjaga kebenaran informasi, membantu sesama, dan bekerja sama untuk kepentingan masyarakat.

Penutup: Jangan Sampai Dekat di Layar, Jauh di Hati
Keberhasilan memaknai Sumpah Pemuda tidak hanya diukur dari banyaknya ucapan nasionalisme di media sosial setiap Oktober, tetapi dari kemampuan kita menjaga kepercayaan, menghargai perbedaan, dan menyelesaikan persoalan bersama.
Internet dapat menghubungkan jutaan orang dalam hitungan detik, tetapi hubungan sosial yang kuat tetap membutuhkan empati, kepercayaan, dan tanggung jawab. Kemajuan teknologi tidak akan berarti banyak apabila kita kehilangan kemampuan untuk mendengarkan dan menghormati sesama.
Karena itu, pertanyaan “Terhubung di internet, terpecah dalam kenyataan?” harus menjadi refleksi bersama. Persatuan bukan perjuangan yang selesai pada 1928, melainkan tanggung jawab yang harus dirawat setiap hari.
Mari memulai dari hal sederhana: memeriksa informasi, menjaga ucapan, menghindari prasangka, dan bergotong royong tanpa memandang latar belakang. Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang semakin maju dalam teknologi, tetapi semakin mundur dalam menghargai sesama.
Semangat Sumpah Pemuda harus hidup bukan hanya dalam ingatan, melainkan dalam tindakan nyata setiap hari.(*)

 

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *