Gowa, haramaindonesia.com — Terik matahari siang tak menyurutkan semangat Arya menjajakan minuman racikannya. Di bawah rindangnya pohon, ia tetap melayani pembeli yang datang silih berganti. Hari itu, dagangannya mendapat perhatian khusus dari sejumlah pegawai Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) Sulawesi Selatan yang berinisiatif membeli minuman jualannya.
Aksi tersebut berlangsung di depan Sekretariat Kantor Kemenhaj Kabupaten Gowa, Jumat (16/10/2026). Di tengah kesibukan mempersiapkan hajatan nasional Sulsel Expo UMKM & Ekosistem Haji dan Umrah 2026, para pegawai menyempatkan diri mendukung pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan memborong dagangan Arya.
Arya merupakan penjual minuman dari Batik Kopi yang biasa mangkal di sekitar Lapangan Syekh Yusuf dan Masjid Raya Sungguminasa, Kabupaten Gowa. Beragam minuman ditawarkannya, mulai dari kopi, es lemon, lemon tea, dan sejumlah varian lainnya. Harganya relatif terjangkau, mulai Rp8.000 per gelas.
Bagi Arya, berjualan minuman menjadi salah satu upaya untuk memperoleh penghasilan. Meski tidak menetapkan target penjualan harian, ia mengaku mampu menjual rata-rata 80 hingga 90 gelas setiap hari.
Namun, dari setiap gelas yang terjual, Arya hanya memperoleh bagian sebesar Rp1.700. Jika berjualan selama 30 hari dengan rata-rata penjualan yang sama, pendapatan dari bagian tersebut berkisar Rp4,08 juta hingga Rp4,59 juta per bulan, sebelum memperhitungkan pengeluaran lain apabila masih ada.
Di tengah persaingan usaha dan kebutuhan untuk terus mendapatkan pembeli, dukungan dari masyarakat maupun instansi menjadi berarti bagi pedagang kecil seperti Arya. Pembelian yang dilakukan para pegawai Kemenhaj Sulsel bukan sekadar memenuhi kebutuhan minuman di sela-sela aktivitas, tetapi juga menjadi bentuk kepedulian terhadap pelaku UMKM.
Salah seorang pegawai Kemenhaj Sulsel, Muh Dahlan, mengatakan aksi tersebut merupakan salah satu cara sederhana untuk membantu meningkatkan pendapatan pelaku usaha kecil.
“Ini cara kami membantu UMKM untuk meningkatkan pendapatannya,” ujar Dahlan.
Aksi borong jualan itu memperlihatkan bahwa dukungan terhadap UMKM tidak selalu harus dilakukan melalui program besar. Langkah sederhana, seperti membeli produk yang dijajakan pedagang kecil, juga dapat menjadi bentuk dukungan nyata bagi keberlangsungan usaha mereka.
Di bawah terik matahari Gowa, transaksi sederhana antara pegawai dan pedagang itu menghadirkan makna lebih dari sekadar jual beli. Ada kepedulian yang tumbuh di tengah kesibukan, sekaligus harapan agar pelaku UMKM terus mendapat ruang untuk berkembang dan meningkatkan kesejahteraan.(*)




















