TANGERANG SELATAN, haramaindonesia.com— Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak menegaskan pentingnya konsolidasi dan penguatan fungsi kehumasan di lingkungan Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj).
Hal tersebut disampaikan dalam acara Konsolidasi dan Penguatan Kehumasan Lingkup Kementerian Haji dan Umrah yang berlangsung di Serpong, Tangerang Selatan, Selasa (21/9/2026).
Kegiatan yang dihadiri oleh Kepala Kantor Wilayah (Kanwil), Kepala Asrama Haji, serta para pranata dan pelaksana kehumasan se-Indonesia ini digelar sebagai langkah strategis dalam menyosialisasikan kebijakan serta program penyelenggaraan ibadah haji.
Dalam arahannya, Wamenhaj menekankan perlunya reorientasi pada tiga visi besar kementerian.
Menurutnya, tata urutan prioritas harus diawali dari sukses ritual ibadah, dilanjutkan dengan sukses peradaban dan keadaban, hingga akhirnya membentuk sukses ekosistem ekonomi syariah yang berlandaskan nilai moral dan integritas.
Instruksi Strategis Penguatan Humas dan Media Digital
Untuk mengikis ketimpangan informasi (asymmetric information) di masyarakat, Wamenhaj memaparkan sejumlah instruksi strategis yang wajib dijalankan oleh seluruh jajaran kehumasan.
Aktif di Media Sosial
Seluruh akun resmi Kanwil dan Asrama Haji (Instagram, TikTok, Threads, Facebook, dan YouTube) wajib dikelola secara aktif sebagai salah satu indikator utama kinerja kehumasan.
Integrasi WhatsApp Group Jemaah
Setiap Kanwil dan Kankemenag diinstruksikan memiliki grup WhatsApp khusus yang terintegrasi langsung dengan jemaah di wilayahnya guna memberikan informasi yang tepat, personal, dan cepat.
Respons Cepat (Fast Response)
Jajaran pelaksana diminta mengedepankan transparansi dan kesiapan merespons pertanyaan serta aduan masyarakat.
Menurut Wamenhaj, kepedulian awal sering kali menjadi kunci utama selesainya masalah jemaah.
Standardisasi Komunikasi Visual
Pemasangan alat peraga seperti banner atau spanduk harus terstandar dan berfokus pada pesan utama reformasi pelayanan, seperti gerakan penumpasan praktik penyimpangan haji dan umrah.
Narasi Berbasis Storytelling Mengangkat kisah-kisah perjuangan pelayanan jemaah di lapangan untuk membangun otoritas moral dan empati publik.
Transparansi Layanan dan Tata Kelola Petugas
Wamenhaj juga menyoroti pentingnya keterbukaan publik mengenai tata kelola dan rekrutmen petugas haji.
Keterbukaan informasi terbukti meningkatkan antusiasme masyarakat, sekaligus memicu kebutuhan evaluasi rekrutmen yang lebih tertata, adil, dan transparan.
”Prinsip kita dalam bekerja harus jelas: kerja, upload, dan informasikan!
Bekerja baik saja tidak cukup jika tidak dikabarkan dengan terbuka kepada masyarakat. Transparansi adalah kunci utama membangun kepercayaan publik,” tegas Dahnil.




















