SINJAI, haramaindonesia.com – Bagi sebagian orang, uang Rp1.000 mungkin hanya cukup untuk membeli sesuatu yang sederhana. Namun bagi Norma Intan, uang seribu rupiah menjadi bagian dari perjuangan panjang menuju Tanah Suci.
Di usia 91 tahun, perempuan yang akrab disapa Nenek Intan akhirnya bisa mewujudkan mimpi yang bertahun-tahun dirawatnya dalam diam beribadah ke Baitullah.
Mimpi tersebut tidak lahir dari penghasilan besar. Justru dari lembaran dan keping rupiah yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit dari hasil berjualan sayur di pasar rakyat.
Setiap hari, Nenek Intan membantu menjual sayuran milik orang lain. Dari hasil yang diterimanya, sebagian disisihkan untuk tabungan umrah. Ketika hanya tersisa Rp1.000, uang itu pun tetap ditabung.
“Setiap hari saya jualkan sayurnya orang di pasar, Nak. Kalau ada yang kasihka uang, saya simpan,” kata Nenek Intan.
Tabungan tersebut tidak berada di rekening bank. Nenek Intan menyimpannya di tempat yang sangat sederhana, di bawah bantal tempat ia tidur.
Di situlah rupiah demi rupiah dikumpulkan. Tidak banyak, tetapi dilakukan terus-menerus. Sebab di balik setiap uang yang disimpan, ada satu doa yang tidak pernah berubah suatu hari bisa sampai ke Tanah Suci.
“Saya tabung sedikit demi sedikit Nak, di bawah bantal. Kalau adami terkumpul kususun dalam kantong plastik lagi,” tutur Nenek Intan saat dikonfirmasi Haramaindonesia.com belum lama ini.
Nenek Intan juga mengaku menyederhanakan keinginannya untuk mewujudkan mimpinya ke Baitullah.
“Jadi kalau ada kurasa mau kubeli, baik untuk keperluan dapur atau pakaian , saya tahan-tahan Nak. Karena sudah kuniatkan memang uang dari menjual sayur di pasar mau kupakai untuk umrah,” tutur Nenek Intan.
Bertahun-tahun berlalu. Usia terus bertambah. Namun keinginan Nenek Intan untuk menunaikan umrah tidak ikut surut.
Hingga akhirnya, di usia 91 tahun, pintu menuju Baitullah terbuka. Bersama Prima Unggul Global cabang Sinjai, impian yang selama ini hanya disimpan dalam doa dan diwujudkan melalui tabungan kecil itu akhirnya menjadi kenyataan pada 9 Juli, 2027 lalu.
Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tabungan yang dikumpulkan Nenek Intan sedikit demi sedikit juga menjadi jalan bagi sang anak untuk ikut menunaikan ibadah umrah.
Dari kebiasaan menyisihkan uang mulai Rp1.000, impian ke Baitullah yang dirawat selama bertahun-tahun itu akhirnya membawa kebahagiaan lebih besar, Nenek Intan dapat berangkat bersama anaknya ke Tanah Suci.
Kisah Nenek Intan menjadi potret tentang bagaimana sebuah mimpi besar bisa tumbuh dari ikhtiar yang sangat sederhana.
Nenek Intan tidak memulai dari tabungan jutaan rupiah. Tidak pula dari penghasilan berlimpah. Ia memulainya dari apa yang ada di tangannya, bahkan ketika jumlahnya hanya Rp1.000.
“Kalau niat sudah kuat, jangan pernah meremehkan uang seribu rupiah. Sedikit demi sedikit, lama-lama menjadi banyak, hingga mewujudkan panggilan ke Baitullah,” ujar salah seorang kerabat Nenek Intan yang juga koordinator Prima Unggul Cabang Sinjai, Maryam.
Kalimat sederhana ini seolah merangkum perjalanan panjang Nenek Intan. Bahwa untuk mengejar sebuah impian, seseorang tidak harus menunggu memiliki banyak.
Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk memulai, kesabaran untuk menjaga ikhtiar, dan keyakinan untuk terus melangkah.
Di usia senjanya dengan kondisi fisik yang tidak maksimal lagi, Nenek Intan akhirnya membuktikan sendiri arti dari semua itu. Uang seribu rupiah yang dikumpulkannya bertahun-tahun bukan sekadar tabungan.
Itulah serpihan-serpihan harapan yang akhirnya membawanya ke Tanah Suci.
Dari pasar rakyat tepatnya di Desa Panaikang, Kecamatan Sinjai Timur, dari hasil berjualan sayur, dari uang yang disimpan di bawah bantal, Nenek Intan akhirnya sampai pada impian yang selama ini ia titipkan dalam doa.
Usia boleh 91 tahun. Penghasilan boleh sederhana. Tetapi selama niat dan ikhtiar tidak berhenti, mimpi menuju Baitullah tetap bisa diperjuangkan. (Han)




















